Unsur Golongan Transisi

Kenali Sifat Sifat Unsur Golongan Transisi

Hallo adik adik kimia , salam kimia ! Dipostingan kali ini Kang Ayub akan membahas materi yang cukup menarik adik adik , yaitu mengenai Sifat Sifat Unsur Golongan Transisi , Golongan Transisi itu apa sih ? apa saja unsur yang terdapat pada golongan Transisi ?  Nah, tanpa basa pahit lagi , kita ,masuk saja kematerinya !

Golongan Transisi

golongan transisi adalah unsur-unsur golongan B, dimulai dari IB – VIIB dan VIII. Sesuai dengan pengisian elektron pada subkulitnya, unsur ini termasuk unsur blok d, yaitu unsur-unsur dengan elektron valensi yang terletak pada subkulit d dalam konfigurasi elektronnya.

Unsur transisi adalah:

  1. Unsur yang terdapat pada blok d dalam system periodic unsur.
  2. Unsur yang sekurang-kurangnya salah satu ionnya mempunyai orbital d yang belum terisi penuh.

Ada berbagai pandangan perihal kelompok unsur-unsur transisi. Posisi unsur-unsur yang termasuk kelompok transisi atau peralihan dapat diperiksa pada kerangka sistem periodik unsur bentuk panjang.

 Sifat unsur-unsur  golongan transisi

Senyawa unsur transisi periode keempat memiliki sifat fisika ;

  1. Penampilan metalik
  2. Titik lebur, titik didih, dan massa jenis relative tinggi
  3. Merupakan penghantar listrik dan penghantar panas yang baik

Senyawa-senyawa unsur transisi pada umumnya berwarna dan warna tersebut tergantung pada banyak dan jenis ion atau molekul lain yang terikat pada atom logam. Unsur-unsur transisi periode keempat mempunyai bilangan oksidasi yang bervariasi, yaitu antara +1 sampai +7, khususnya apabila berikatan dengan atom oksigen.

Semua unsur transisi mempunyai sifat fisis yang mirip, yaitu:

  1. Mempunyai kerapatan yang besar.
  2. Titik leburnya relative sama.
  3. Ukuran atomnya relative sama.
  4. Merupakan penghantar listrik yang baik.

Karakteristik unsur-unsur transisi sebagai berikut:

a. Bersifat Logam.

Semua unsur transisi bersifat logam karena semua unsurnya cenderung melepaskan electron menjadi ion positif.

b. Umumnya membentuk senyawa berwarna.

Terkecuali senyawa dari ion Zn2+ (karena pada konfigurasi elektronnya, subkulit 3d terisi penuh 10 elektron), Sc3+ dan Ti4+ (karena pada konfigurasi elektronnya, subkulit 3d tidak terisi electron).

c. Sebagian besar ionnya mempunyai lebih dari satu tingkat oksidasi.

Terkecuali Sc dan Zn yang masing-masing ionnya hanya mempunyai satu tingkat oksidasi, yaitu +3 dan +2.

d. Membentuk senyawa-senyawa paramagnetic.

Bersifat paramagnetic jika pada subkulit 3d-nya minimal mempunyai satu electron tak berpasangan. Fe, Co, dan Ni memiliki sifat unik yang disebut feromagnetik (dapat dijadikan magnet permanen).

e. Bersifat katalis.

f. Membentuk ion kompleks.

Semua unsur transisi mempunyai sifat logam seperti konduktor panas dan listrik yang baik serta berwujud padat pada temperature kamar (kecuali Hg).

Baca juga :

Ketidakreaktifan beberapa unsur transisi ditandai oleh tingginya entalpi sublimasi, tingginya inonisasi, dan rendahnya entalpi pelarutan. Tingginya titik leleh mengindikasikan tingginya entalpi sublimasi. Selain itu, unsur-unsur transisi juga mempunyai sifat-sifat khas, antara lain sebagai berikut :

a. Mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu macam, meskipun ada juga yang hanya mempunyai satu macam.

Contoh : Fe2+ dan Fe3+ , Co2+ dan Co3+ , Zn2+

Mangan memiliki beberapa macam bilangan oksidasi dan warnanya berbeda-beda.

b. Mempunyai kecenderungan yang kuat membentuk ion kompleks.

c. Senyawanya ada yang bersifat paramagnetic, tetapi ada pula yang bersifat diamagnetic.

d. Kebanyakan ion atau senyawanya berwarna, berbeda dengan unsur-unsur blok s dan p yang umumnya putih. Hal ini disebabkan subkulit d hanya terisi sebagian elektron.

Logam-logam transisi mempunyai struktur kemas rapat (closest pack), artinya setiap atom mengalami persinggungan yang makssimal dengan atom-atom yang lain, yaitu sebanyak dua belas atom tetangganyaa. Dalam periode, elektron-elektron mengisi orbital (n-1)d (artinya orbital ini terletak disebelah dalam dari orbital ns2) yang semakin banyak dengan naiknya nomor atom, sehingga jari-jari atomiknya relatif semakin pendek. Akibat dari struktur kemas rapat dan kecilnya ukuran atomik adalah bahwa logam-logam transisi membentuk ikatan logam yang kuat antara atom-atomnya sehingga logm-logam ini dapat di tempa dan kuat. Maka relatif terhadap logam-logam golongan s seperti kalium dan kalsium, logam-logam transisi mempunyai titik leleh lebih tinggi, titik didih lebih tinggi, densitas lebih tinggi, dan panas penguapan yang lebih tinggi pula.

Berdasarkan nilai potensial reduksinya, logam-logam transisi kurang elektropositif dibandingkan logam-logam kelompok s  (alkali dan alkali tanah), namun kecuali Cu, logam-logam transisi tetap bereaksi dengan asam kuat encer. Kenyataannya untuk beberapa logam, reaksi berlangsung secara perlahan karena terbentuknya lapisan oksida nonpori yang melapisi dan menghalangi logam bagian dalam dari serangan asam lebih lanjut. Kromium(III) oksida, Cr2O­­3 adalah pelindung yang terbaik dari oksidasi lanjut maupun korosi, seperti halnya Al2O3.

Ion-ion logam transisi lebih kecil ukurannya dibanding dengan ion-ion logam kelompok s dalam periode yang sama. Hal ini menghasilkan rasio muatan per jari-jari yang lebih besar bagi logam transisi. Atas dasar ini, relatif terhadap logam kelompok s di peroleh sifat-sifat logam transisi sebagai berikut:

  1. Oksida-oksida dn hidroksida logam transisi (M2+, M3+) kurang bersifat basa dan lebih sukar larut.
  2. Garam-garam logam-logam transisi kurang bersifat ionik dan juga kurang stabil tehadap pemanasan.
  3. Garam-garam dan ion-ion logam transisi dalam air lebih mudah terhidrat dan juga lebih mudah terhidrolisis menghasilkan sifat agak asam.
  4. Ion-ion logam transisi lebih mudah tereduksi.

Walaupun senyawa logam-logam transisi dengan tingkat oksida +2 dan +3 sering dipertimbangkan ionik, namun tingkat tingginya muatan kation atau tingginya tingkat oksidasi ini dan pengaruhnya pada polarisasi anion sekalipun hanya kecil mengakibatkan beberapa oksida menunjukkan sifat asam dan senyawanya menjadi bersifat kovalen. Sebagai contoh, Cr2O3 dan Mn2O3 menunjukkan sifat amfoterik, dan semakin tinggi tingkat oksidasinya seperti  pada CrO3 dan Mn2O7, oksida ini menjadi oksida asam.

Unsur transisi mempunyai sifat-sifatyang khas yang membedakannya dari golongan lain, yaitu:

  1. Jari-jari Atom. Jari-jari atom unsur transisi periode 4 dari kiri ke kanan (dengan bertambahnya nomor atom)menurun perlahan bahkan dapat dikatakan konstan. Hal ini disebabkan gaya tolak elektron pada prbital 3d melindungi elektron 4s dari gaya tarik muatan inti yang semakin kuat.
  2. Keelektronegatifan unsur logam transisi pada periode 4 pada umumnya meningkat secara perlahan berlawanan dengan jari-jari atomnya yang menurun secara perlahan.
  3. Energi ionisasi pertama. Energi ionisasi pertama unsur transisi periode 4 meningkat perlahan dari kiri ke kanan karena perlinduingan orbital 3d terhadap elektron 4s sangat efektif terhadap bertambahnya inti.
  4. Massa jenis. Massa jenis logam transisi periode 4 meningkat seiring dengan naiknya nomor atom dan turunnya jari-jari atom.
  5. Bilangan oksidasi. Unsur logam transisi dapat membentuk ion positif dengan cara melepaskan elektron valensinya. Pelepasan elektron dimulai dari orbital 4s, kemudian ke orbital 3d, sehingga unsur transisi dapat memiliki berbagai macam bilangan oksidasi.
  6. Sifat logam, semua unsur transisi tergolong logam dengan titik cair dan titik didihnya yang relatif tinggi.
  7. Massa jenisnya tinggi, menunjukkan tingkat kepadatan antara atom-atom logam sangat tinggi.
  8. Jari-jari atom unsur relatif pendek, memungkinkan ikatan antara logam sangat kuat yang dikenal dengan ikatan logam.
Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *