Hallo adik adik kimia , salam kimia ! dipostingan kali ini kang Ayub akan melanjutkan materi sebellumya yaitu mengenai Sifat Sifat Unsur Golongan Transisi  ,  Warna Senyawa  dan Sifat Kemagenetan Dari Unsur Transisi  ,Unsur Golongan Transisi ini mempunyai Penampilan metalik , Titik lebur, titik didih, dan massa jenis relative tinggi , dan Unsur Golongan Transisi ini Merupakan penghantar listrik dan penghantar panas yang baik

 

A. Warna Senyawa Dari Unsur Transisi Dengan Bilangan Oksidasi

  1. Bilangan Oksidasi

Sifat kimia dan fisika unsur transisi ditentukan oleh konfigurasi elektronnya. Tingkat energy orbital d dan s kulit terluarnya hampir sama, sehingga terjadi kombinasi orbital d dan s dalam konfigurasi elektronnya. Bila unsur ini melepaskan electron, maka yang pertama keluar adalah electron pada orbital s, karena yamng terlemah, dan kemudian diikuti oleh orbital d. akibatnya, unsur ini dapat melepaskan satu, dua, atau tiga electron, sehingga membentuk ion positif L+ (seperti Ag+, Au+, Hg+). L2+ (seperti Cu2+, Zn 2+) dan L3+ (seperti Cr3+, Fe3+, Au3+).

Dalam senyawa, unsur transisi selalu mempunyai bilangan oksidasi positif dan nilainya dapat bervariasi dari +1 s/d +8 (table). Ada beberapa hal penting ditemukan dalam table ini. Pertama, kebanyakan unsur transisi mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi. Kedua, unsur pada kolom sebelah kiri, bilangan oksidasi yang stabilnya cenderung yang nilainya tinggi. Umumnya bilangan oksidasi tertinggi unsur ini sama dengan golongannya. Ketiga, unsur transisi bagian bawah cenderung mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi yang stabil.

Bilangan oksidasi logam transisi

IIIB IVB VB VIB VIIB VIII IB IIB
Sc Ti V Cr Mn Fe Co Ni Cu Zn
+3* +2 +1 +2 +2* +2 +2* -2* +1 +2*
+3 +2 +3 +3 +3* +3 +3 +2*
+4* +3 +6 +4 +4
+4* +6 +6
+5 +7
Y Zr Nb Mo Tc Ru Rh Pd Ag Cd
+3* +2    +2 +1    +2 +2 +1 +2* +1* +2*
+3 +3 +2 +3 +3* +2 +3 +2
+4* +4 +3* +4* +4* +3* +4* +3
+5* +4* +5 +5 +4*
+5 +6 +6 +5
+6* +7 +7 +6
+8 +8
La Hf Ta W Re Os Ir Pt Au Hg
+3* +3    +2    +2 +3*    +2 +1 +2* +1* +1*
+4* +3 +3 +4* +3 +2 +3 +3* +2*
+4 +4 +5 +4* +3* +4*
+5* +5* +6 +5 +4* +5
+6* +7* +6* +5 +6
+8* +6

* = Stabil

Orbital 4f golongan lantanida berada di bagian dalam, dan ditutupi oleh orbital 5d dan 6s. akibatnya, sifat unsur-unsur itu sama dengan lantanium. Umumnya logam ini membentuk ion M3+, dan perbedaan sifatnya disebabkan perbedaan jari-jari ionnya. Unsur golongan aktinida mempunyai oksidasi bervariasi, contohnya, uranium ialah +3,+4,+5,dan +6. Hal ini disebabkan oleh orbital 5f terletak agak keluar dari orbital 6d dan 7s, sehingga orbital 5f dapat terlibat dalam ikatan.

Baca juga :

2. Warna Senyawa Dari Unsur Transisi

 Umumnya, unsur-unsur transisi periode keempat memiliki biloks lebih dari satu. Hal ini disebabkan tingkat energi orbital s dan orbital d tidak berbeda jauh sehingga memungkinkan elektron-elektron pada kedua orbital itu digunakan melalui pembentukan orbital hibrida sp3d2.

Biloks maksimum sama dengan jumlah elektron valensi dalam orbital s dan orbital d atau sama dengan nomor golongan. Jadi, titanium (IVB) memiliki biloks maksimum +4, vanadium (VB), kromium (VIB), dan mangan (VIIB) memiliki biloks maksimum berturut-turut +5, +6, dan +7. Dapat dilihat dari tabel

Tabel warna senyawa dari unsur transisi dengan bilangan oksidasi

 

Unsur

Bilangan oksidasi
+2 +3 +4 +5 +6 +7
Sc Tidak berwarna Tidak berwarna
Ti Ungu Biru
V Ungu Hijau Merah Jingga hiaju
Cr Biru Hijau Ungu
Mn Merah muda
Fe Hiaju muda Kuning
Co Merah muda Biru
Ni Hiaju
Cu Biru
Zn Tidak berwarna

B. KEMAGNETAN

Sebagai unsur transisi mempunyai elektron tidak berpasangan pada orbital d-nya. bahwa atom atau molekulnya yang sedemikian akan bersifat magnet (paramagnetik).

contohnya:

Fe (Ar) 3d4 4s2

Nb (Kr)  4d4 5s2

Ir (Xe  4 f14) 5d8 6s2

Materi yang dapat ditarik oleh medan magnet disebut feromagnetik. Tetapi tidak semua atom yang paramagnetic bersifat feromagnetik. Logam murni yang feromagnetik hanya besi, kobalt, dan nikel. Keferomagnetikan logam ditentukan oleh ikatan antara atom logam tersebut, sehingga membentuk domain. Domain yaitu kelompok-kelompok atom paramagnetic yang arah kemagnetikannya sama, jika arah kemagnetikan domain-domain itu acak maka materi tidak bersifat magnet. Sebaliknya, bila arah itu sama (hampir sama) akan memberikan sifat magnet kepada materi itu.

Jika logam yang feromagnetik diletakkan dalam medan magnet, mengakibatkan domainnya tersusun searah secara berangsur. Domain yang telah searah menimbulkan medan magnetic makin lama makin kuat, sehingga jumlah dimain yang searah sangat besar. Bila medan magnet dihilangkan, bahan feromagnetik tetap bersifat magnetic atau magnet permanen.

Jika hal yang sama dilakukan terhadap logam yang paramagnetic tetapi tidak feromagnetik akan terjadi sifat magnet yang lebih kecil, karena tidak ada domain. Akan tetapi setelah medan magnet ditiadakan, sifat magnetiknya hilang, karena arah kemagnetikan atom-atomnya kembali acak. Sebenarnya tidak ada magnet yang sungguh permanen, sebab kemagnetan bisa hilang oleh panas yang mempercepat gerakan domain sehingga acak kembali. Kemagnetan juga bisa berkurang bila dipukul atau dipukulkan kepada benda keras karena getaran membuat domain menjadi acak.

Seperti telah dinyatakan bahwa tidak semua atom yang mengandung elektrom tidak berpasangan yang bersifat feromagnetik, contohnya mangan (Mn) mengandung lima electron tidak berpasangan, sedangkan besi hanya empat. Mangan murni tidak feromagnetik, tetapi bila dicampur dengan logam lain (seperti tembaga) menjadi feromagnetik. Dari sini tampak bahwa iom tembaga membuat daya ikat antara mangan lebih kuat sehinga membentuk domain.

Diamagnetik. Sifat diamagnetic dimiliki zat yang semua elektronnya sudah berpasangan (↑↓) dimana momen magnetiknya saling meniadakan. Sewaktu diletakkan dalam medan magnet, zat ini akan ditolak sedikit oleh medan magnet. Penolakan yang terjadi dikarenakan adanya gaya tambahan yang bekerja pada electron, yakni gaya magnet. Hal ini menyebabkan momen magnetik kedua electron tidak lagi salng meniadakan, melainkan diperoleh suatu net momen magnetic yang arahnya berlawanan dengan arah medan magnet luar.

Paramagnetik. Sifat paramagnetic dimiliki zat yang mempunyai setidaknya 1 elektron tidak berpasangan (↑). Dalam medan magnet luar, momen-momen magnetic atom yang terdistribusi acak akan tersusun berjajar. Zat akan tertarik kemedan magnet luar tersebut. Sifat magnetic tidak bersifat permanen kaena jika medan magnet luar dihilangkan, maka momen-momen tersebut cenderung untuk terdistribusi acak kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *