Cara Menentukan Bilangan Oksidasi (Biloks)

Cara Menentukan Bilangan Oksidasi – Hallo adik adik kimia , salam kimia , dipostingan kali ini Kang Ayub akan membahas materi mengenai Cara Menentukan Bilangan Oksidasi , dimana materi sebelumnya sangat berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya yaitu Perkembangan Konsep Reduksi dan Oksidasi (REDOKS)  . bagi adik adik yang belum baca materi sebelum nya , silahkan dibaca ya . Tanpa basa pahit lagi langsung saja kita masuk materi nya

Konsep Bilangan Oksidasi

Pengertian Bilangan Oksidasi

Bilangan oksidasi yaitu bilangan yang menyatakan banyaknya elektron yang telah dilepaskan atau diterima oleh suatu muatan yang dimiliki oleh suatu atom dalam suatu senyawa.

Biloks diartikan sebagai muatan atom dalam suatu molekul ataun ion . contoh dalam natrium    klorida , biloks total senyawa NaCl adalah nol sebab tidak bermuatan , sedangkan biloks atom natrium dalam NaCl adalah +1 dan biloks atom klorin adalah -1 .

Biloks diberi tanda positif jika atom itu melepaskan elektron dan diberi tanda negatif jika atom itu menerima elektron.

Bagaimana kita bisa menentukan apakah suatu unsur dalam senyawa memiliki biloks positif atau negatif? Perhatikan deret unsur berdasarkan keelektronegatifannya berikut ini.

        Logam< H < P < C < S < I < Br < Cl < N < O < F

        Jika unsur diatas bereaksi membentuk senyawa, maka unsur yang posisinya lebih kiri akan mempunyai biloks positif. Sementara itu unsur yang posisinya lebih kanan akan mempunyai biloks negatif.

Dalam suatu molekul yang berikatan kovalen atau ion poliatomik , biloks menyatakan muatan hipotesis . misalkan HCl , kedua electron ikatan berada disekitar atom klorin sebab atom klorin lebih elektronegatif daripada hydrogen .

Oleh karena atom H tidak memiliki electron yang padanya , maka biloksnya +1 (kurang satu electron dari keadaan atom netralnya ). Atom klorin mempunyai delapan electron valensi , kelebihan satu electron dari keadaan netralnya , oleh sebab itu itu , biloksnya adalah -1 .

Jika atom yang berikatan berasal dari unsure yang  sama , misalnya Cl2 maka kedua electron ikatan tersebar pada masing masing atom . akibat penyebaran electron ini , atom atom dalam stiap zat mempunyai muatan bersih sama dengan nol , dan biloksnya adalah 0.

Baca juga : Perkembangan Konsep Reaksi Reduksi-Oksidasi (Redoks)

Aturan Menentukan Bilangan Oksidasi

Untuk menentukan bilangan oksidasi berbagai unsur dalam senyawa disusun aturan sebagai berikut:

  1. Bilangan oksidasi atom unsur dalam keadaan unsur bebasnya adalah Contoh : Bilangan okisdasi Na, Fe, H2, N2, O2 berturut-turut = 0
  2. Bilangan oksidasi ion monoatom sama dengan muatan ionnya.

Contoh : Bilangan oksidasi ion Cu2+ = +2  Na+ = +1 Al3+ = +3

  1. Jumlah bilangan oksidasi semua atom dalam senyawa adalah nol sedangkan untuk ion poliatomik jumlah bilangan oksidasi pembentuk ion tersebut harus sama dengan muatan ion poliatomik tersebut.

Contoh : Tentukan bilangan oksidasi C dalam H2CO3

Berlaku : (2 x biloks H) + (1 x biloks C) + (3 x Biloks O) = 0

(2 x +1) + (1 x biloks C) +(3 x -2) = 0

2 + (1 x biloks C) + -6 = 0

(1 x biloks C) = +4

  1. Bilangan oksidasi unsur-unsur golongan VII A , atom F, Cl, Br, I selalu mempunyai bilangan oksidai -1 dalam senyawa biner logam.

Contoh : HF, NaBr, FeCl3 bilangan oksidasi F, Br, Cl berturut-turut= -1

  1. Atom unsur golongan IA mempunyai bilangan oksidasi +1 dalam senyawanya.

Contoh : Li , Na, K, Rb Cs mempunyai biloks = +1

  1. Atom unsur golongan IIA mempunyai bilangan oksidasi +2 dalam senyawanya.

Contoh : Be, Mg, Ca, Sr, Ba mempunyai biloks = +2

  1. Dalam senyawanya, atom H mempunyai bilangan oksidasi +1, kecuali dalam senyawa hidrida logam atom H mempunyai bilangan oksidasi -1.

Baca Juga : Menyetarakan Reaksi Redoks Metode Setengah Reaksi Dan Perubahan Bilangan Oksidasi

Contoh : Bilangan okisdasi H dalam HCl, H2O dan NH3 berturut- turut = +1. Bilangan oksidasi H dalam NaH, BaH2 = -1

  1. Oksigen mempunyai bilangan oksidasi -2, dengan pengecualian:
  2. Dalam senyawa biner dengan F, O mempunyai bilangan oksidasi +2
  3. Dalam peroksida mempunyai bilangan oksidasi -1.

Contoh : Bilangan oksidasi O dalam H2O, NO, CO2 berturut-turut adalah -2

Bilangan oksidasi O dalam H2O2, Na2O2 berturut-turut adalah -1.

Contoh soal :

  1. CH4               :  bilangan oksidasi (b.o) H = +1

b.o C + 4 x b.o H = 0

b.o C + (4 x + 1) = 0

maka b.o C = – 4

  1. SF6              :  Bilangan oksidasi F = -1

b.o S + (6 x – 1) = 0

maka b.o S = + 6

  1. F2O3            :   bilangan oksidasi (b.o) O = – 2

(2 x b.o Fe) + ( 3 x – 2) = 0

(2 x b.o Fe) – 6 = 0

maka b.o Fe = +6 ÷ 2 = +3

  1. H2S2O7 :  bilangan oksidasi (b.o) H = +1

bilangan oksidasi (b.o) O = -2

( 2 x (+1)) + (2 x b.o S) + (7 x (-2)) = 0

2 x b.o S = +12

Maka b.o S = +12 ÷ 2 = +6

  1. BaO2 :  bilangan oksidasi (b.o) Ba = +2

+2 + (2 x b.o O  ) = 0

2 x b.o O = -2

Maka b.o O  = – 1

Baca Juga : 40 Soal Latihan Reaksi Redoks Serta Pemahasannya

Previous Post Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *