Pengaruh Toksisitas Sistemik Kronik

   Pengaruh toksisitas sistemik yang kronik adalah pengaruh daya racun yang mengakibatkan penyakit oleh kehadiran zat kimia dalam jumlah kecil pada jangka waktu yang cukup lama. Gejala yang ditimbulkan dari racun yang bersifat kronik ini baru timbul setelah berlangsung dalam waktu yang relatif lama, misalnya beberapa tahun setelah kontak atau mengonsumsi zat kimia tertentu terlalu, sehingga sering sekali dalam diagnosisnya nama zat kronik ini sangat sulit diduga dan sulit untuk diketahui maka untuk menduga bahwa suatu senyawa kimia memiliki sifat kronik dilakukan dengan melihat timbulnya penyakit di wilayah tertentu. Artinya, pada waktu yang bersamaan disuatu tempat ditemukan banyak orang yang menderita penyakit dengan gejala yang hampir sama maka diduga bahwa penyakit tersebut mungkin disebabkan oleh mengkonsumsi zat kimia tertentu dokter dapat enggunakan data-data statistik untuk menghubungkan atara daya racun zat kimia tertentu dengan satu jenis penyakit, baik itu yang digolongkan sebagai penyakit baru atau penyakit yang sudah sering diderita orang lain.

Kadangkala hubungan statistik antara orang yang menderita suatu penyakit dengan penanganan zat kimia sangat nyata seperti adanya penyakit kanker paru pada orang yang merokok, namun pada jenis penyakit yang lain data tersebut tidak nyata sehingga menjadi sulit untuk mengurangi korba yang disebabkan oleh zat kimia yang memeiliki efek racun kronik. Namun demikian informasi ilmiah tentang pengaruh toksisitas sistimatik yang kronik yang diakibatkan oleh senyawa kimia yang secara akademik dapat diterima dan sudah mendekati teruji harus disosialisasikan agar paparan manusia terhadap zat kimia yang tergolong memiliki sifat toksisitas sistem kronik dapat dihindarkan, dengan tujuan untuk mengurangi timbulnya dampak negatif yang ditimbulkan oleh senyawa tersebut. Advokasi terhadap bahaya seyawa kimia yang tergolong memiliki toksisitas sistem kronik harus tetap dilakukan.

Baca juga :

Percobaan untuk menguji toksisitas kronik sangat mahal dan membutuhkan jangka waktu yang lama sehingga uji toksisitas kronik sulit untuk dilakukan. Untuk menguji pengaruh racun kronik biasanya dilakukan dengan menggunakan binatang percobaan dengan ketentuan (1) melibatkan binatang dalam julah yang besar; (2) spesies harus lebih dari satu; (3) menggunakan dosis bertingkat; (4) menggunakan dosisi dalam jangka waktu yang lama; (5) menggunakan pengujian fisiologis dan gejala lain terhadap binatang dan keturunanya. Uji toksisis kronik harus mempertimbangkan jenis spesies yang tepat untuk satu percobaan, yaitu spesies yang dipilih sebagai binatang percobaan harus menunjukkan gejala penyakit yang relatif sama seperti yang diderita olah manusia bila berhubungan dengan zat kimia.

Zat kimia Pengaruh/gejala penyakit Jangka waktu kronik
Pelarut organik yang mengandung klor Kerusakan hati Berbulan-bulan
Benzen Anemia Berbulan-bulan
Amina aromatis Kanker Bertahun-tahun
Vynil klorida Kanker Bertahun-tahun
Asbestos Kanker >10 tahun
Arsen Kanker >20 tahun

Beberapa senyawa memiliki efek kronik digolongkan sebagai senyawa karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan sensitisers. Karsinogenik adalah seyawa kimia yang dapat mengakibatkan penyakit kanker, atau potensial sebagai pemicu kanker. Senyawa karsinogenik diklasifikasikan sebagai: (1) karsinogenik tipe 1, yaitu senyawa kimia yang sudah pasti diketahui menyebabkan kanker kepada manusia, misalnya asbestos,senyawa aromatis, (2) karsinogenik tipe ll .yaitu senyawa kimia yang  diketahui sudah pasti menyebabkan kanker kepada hewan dan diduga akan mengakibatkan kanker kepada manusia, misalnya senyawa formaldehid, asap rokok, dan (3) karsinogenik tipe lll, yaitu senyawa kimia yang perlu dipertimbangkan dan diduga memiliki potensi akan mengakibatkan kanker akan tetapi belum cukup data untuk menyakinkannya, misalnya senyawa kloroform.

Terbentuknya kanker pada makhluk hidup setelah masuknya zat kimia karsinogenik tersebut dalam jumlah yang sangat kecil ke dalam tubuh umumnya membutuhkan waktu cukup lama. Berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh zat kimia dikenal saat ini seperti kanker hati, kanker kulit melanoma, leukemia, kanker lambung, kanker paru, kanker payudara, kanker nasofaring, dan lain-lainperoses terbentuknya kanker oleh kehadiran zat kimia diduga bahwa senyawa kimia karsinogenik yang terpapar kedalam tubuh memasuki aktivitas metabolisme tubuh, dan di dalam proses selanjutnya zat kimia tersebut bereaksi dengan DNA yang akan dapat mengubah struktur DNA. Akan tetapi, adanya faktor-faktor lain yang ikut serta dalam pembentukan kanker masih banyak yang belum diketahui.

   Mutagenik

senyawa kimia yang dapat mengakibatkan perubahan kimia bahan genetik (DNA) didalam inti sel (nukleus). Efek mutagenik mungkin tidak atau belum nyata terlihat kepada induvidu yang terkena senyawa mutagenik tersebut, akan tetapi perubahan DNA (mutasi) akan dapat mengakibatkan pengaruh terhadap generasi berikutnya. Misalnya, terjadinya cacat lahir atau penyakit genetik lainnya pada keturunan pertama atau generasi berikutnya. Beberapa senyawa kimia dan radiasi radio aktif diduga dapat mangakibatkan mutasi gen.beberapa informasi ilmiah yang diperoleh dari hewan percobaan diketahui bahwa radiasi radioaktif dan senyawa epoksida diduga sebagai penyebab mutagen. Beberapa sneyawa karsinegenik juga diduga menjadi senyawa mutagenik karena memengaruhi struktur DNA makhluk hidup.

   Terotogenik

Senyawa kimia yang dapat merusak janin yang mengakibatkan kelainan laihir. Perhatian dunia internasional terhadap terotogenetik adalah setelah diketahui adanya tragedi thalidomide yaitu terjadinya cacat lahir dan efek narkotoka terhadap orang yang mengonsumsi senyawa thalidomide didalam obat (thalidomide digunakan sebagai campuran rasemik). Setelah kejadian ini maka semua obat-obatan bahan tambahan pada makanan, dan senyaw penting pada industri harus diuji terhadap sifat teratogenetiknya.

   Sensister

senyawa kimia yang dapat mengakibatkan alergi terhadap induvidu tertentu namun keberadaan senyawa itu dapat ditoleransi oleh sebagian besar populasi di  dalam lingkungannya. Banyak senyawa kimia yang memiliki efek sensister terhadap induvidu tertentu tetapi tidak terjadi kepada induvidu yang lain.  Beberapa senyawa lain yang dapat di kategorikan sebagai senyawa sensister adalah formaldehida (HCHO) yang terdapat didalam pelastik, kertas,dan lem. Senyawa lain seperti isosianat (R-N=C=O) yang terdapat didalam cat, sensister. Jenis logam yang terdapat didalam krom terdapat bahan-bahan percetakan,elektroplating,fotografi, dan bahan kulit juga dikategorikan sebagai senyawa sensister. Berbagai jenis pestisida yang menjadi polutan lingkungan juga diduga mempunyai efek sensister.

Identifikasi Senyawa Beracun b

Beberapa cara yang dilakukan untuk mengidentifikasi zat kimia beracun dan karsinogenik adalah melalui struktur kimia. Harus diakui bahwa sangat sulit untuk memastikan bahwa suatu senyawa kimia bersifat racun, karsinogenik atau bahkan tidak memberikan efek tanpa melalui percobaan. Akan tetapi, untuk bahan perhatian bagi kimiawan yang berhubungan dan selalu bersahabat dengan zat kimia maka pengetahuan dasar terhadap potensi racun zat kimia harus diketahui. Ada pedoman umum yang sudah diyakini dan dibuat melalui pengelompokan zat kimia sebagai berikut:

  1. Senyawa beracun akut , yaitu hampir semua senyawa hologen beracun seperti borm,klor,fluor, dan iodum. Senyawa sianida dan nitril (golongan-CN) bersifat racun aktif seperti hidrogen sianida, hidrogen sulfida, dan nitrogen dioksida bersifat racun akut.
  2. Senyawa beracun kronis,yaitu hapir semua logam berat seperti arsen, kadmium,merkuri diketahui bersifat racun kronis. Golongan senyawa lain seperti vinyl klorida, dan asbestos bersifat racun kronis.
  3. Senyawa karsinogen,yaitu hampir semua senyawa alkil (alkylatingagents) seperti alfa-halo-eter,sulfonat,epoksida,elektrofilik alkena dan alkuna, semua senyawa organohologen, hidrazin, N-nitrisi, amina aromatik,hidrokarbon aromatik, dan banyak senyawa alamiah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *