Lompat tinggi adalah olahraga yang cukup pupoler dikalangan sekolah. Selain merupakan materi pokok dalam pelajaran sekolah, olahraga satu ini juga banyak digemari oleh kalangan remaja, berbeda dengan lompat jauh yang mengutamakan jarak lompatan, lompat tinggi lebih mengutamakan ketinggian lompatan.

Gaya Lompat Tinggi

Gaya lompat tinggi memiliki beberapa jenis gaya, secara umum gaya lompat tinggi terbagi menjadi 4 jenis gaya, yaitu gaya gunting, gaya guling sisi, gaya straddle dan gaya flop. Masing-masing gaya memiliki tekniknya sendiri-sendiri, berikut penjelasannya.

1. Gaya Gunting

Gaya ini jenis ini adalah gaya yang paling klasik pada lompat tinggi. Gaya ini mulai hadir ketika olahraga atletik mulai dipertandingkan di olimpiade Skotlandia di abad 19.

Sesuai dengan namanya, untuk melakukan gaya ini kaki yang pertama melompat dan disusul dengan kaki selanjutnya yang kemudian kaki yang kedua menyentuh tanah terlebih dahulu setelah melewati mistar dalam ketinggian tertentu.

Baca Juga : 25 Soal Latihan Lompat Tinggi Beserta Pembahasannya

gaya gunting klasik awalnya menggunakan gaya jongkok ketika melompat yang awalnnya dilakukan dengan posisi tubuh berada di depan mistar, namun selanjutnya disempurnakan oleh Michel Sweeney yang memposisikan tubuh disamping mistar, sehingga posisi gunting dilakukan tubuh sejajar dengan mistar.

2. Gaya Guling Sisi

Gaya guling sisi merupakan gaya yang melakukan awalan dengan memposisikan tubuh berada di samping mistar, gaya yang sering disebut western roll ini dilakukan dengan cara mengangkat tubuh sehingga memposisikan tubuh sedemikan rupa hingga ketika diudara melayang dan terlentang disusul dengan putaran tubuh hingga akhirnya melewati mistar.

Sayangnya gaya ini pernah dilarang, karena terdapat aturan yang mendiskualifikasi pelompat yang memposisikan kepala lebih rendah dari pinggul ketika melompat. Namun akhirnya aturan tersebut dicabut, karena atlet hanya menggunakan gaya yang ada sebelumnya.

3. Lompat Tinggi Gaya Straddle

Gaya straddle adalah gaya yang hampir mirip dengan gaya guling sisi, bahkan bisa dikatakan bahwa gaya ini adalah gaya penyempurna dari gaya guling sisi. Kenapa demikan? Karena gaya ini tidak lagi menepatkan kepala lebih rendah dari pinggul.

Gaya ini diciptakan dan diperkenalkan oleh Charles Dumas yang ketika itu adalah seoarang atlet yang mampu mempertahankan rekor selama 4 tahun untuk lompat tinggi dengan ketinggian 2,23 meter.

Rekor tersebut dapat dikatakan sangat fantastis dalam dunia lompat tinggi, hal tersebutlah yang membuat gaya starddle ini mulai banyak digunakan oleh atlet lompat tingggi lainnya.

Saat ini rekor lompat tinggi menggunakan gaya straddle dipegang oleh Valeriy Brumel, yaitu seroang atlet yang mampu melewati mistar dengan ketinggian 2,28 meter.

Baca Juga : Teknik Dasar Dan Peraturan Permainan Bola Basket

4. Lompat Tinggi Gaya Flop

Gaya flop pertama kali dikenalkan pada tahun 1968 oleh Dick Ricardo Fosbury, yaitu seroang atlet asal amerika yang pernah memenangkan kejuaraan lompat tinggi di olimpiade Mexico, hal tersebut lah yang membuat gaya lompat ini sering disebut sebagai Fosbury Flop.

Gaya ini bisa dibilang cukup unik, karena ketika hendak melakukan tolakan posisi atlet yaitu membelakangi mistar yang selanjutnya atlet melompat melewati mistar dengan mendahulukan punggung terlebih dahulu.

Sekilas gaya ini sangat mirip dengan salto, namun sebenarnya berbeda, karena seorang pelompat tidak membalikkan kaki. Atlet akan tetap menjatuhkan punggungya terlebih dahulu hingga akhirnya mendarat.

Peraturan Lompat Tinggi

Hal yang penting kalian perhatikan dalam pertandingan lompat ini ialah aturan yang berlaku. Mengapa demikian? Hal ini demi menjaga kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan loncat tinggi. Nah, peraturan yang berlaku dalam pelaksanaan loncat tinggi antara lain :

  1. Para atlet diharuskan melewati mistar yang telah disediakan tanpa menjatuhkannya ataupun menyentuhnya. Jika atlet tidak mampu melanjutkan lompatan akan dinyatakan di diskualifikasi. Termasuk jika atlet tidak melompat.
  2. Setiap atlet atau pelompat memiliki kesempatan melewati mistar sebanyak 3 kali dengan ketinggian yang sama. Catatannya, jika dalam ketiga kesempatan tersebut gagal melewati mistar maka dinyatakan gugur.
  3. Tolakan yang diperbolehkan dalam lompat tinggi hanya dengan salah satu kaki.
  4. Peserta hanya boleh menggunakan pakaian dan atribut yang sesuai dengan standar yang ditetapkan panitia.
  5. Atlet memiliki kewajiban meneruskan lompatan (meskipub semua peserta lain gagal) hingga dia tidak mampu.
  6. Ketinggian lompatan diukur secara berkala sehingga minim terjadi kecurangan.

Ukuran Lapangan Dan Sarana Lompat Tinggi

Lapangan loncat tinggi dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya jalur awalan, daerah tolakan, mistar beserta penyangganya dan matras untuk mendarat. Masing-masing peralatan ini tentu memiliki ketentuanya sendiri. Mau tahu apa aja ketentuannya? Yuk langsung saja simak penjelasannya berikut ini.

Baca Juga : Lompat Jauh : Pengertian, Sejarah, Teknik Dasar Dan Ukuran Lapangan

1. Area Jalur Awalan

Pada area jalur awalan bentuknya menyerupai bujur sangkar atau setengah lingkaran. Jaraknya dari tepi ke titik pusat sekitar 15 meter. Nah, area awalan inilah nantinya digunakan untuk proses memprediksi langkah, kecepatan dan momentum tolakan.

2. Area Tolakan

Biasanya pada area tolakan dibuat sedatar mungkin, bersih dan tidak licin. Hal itu agar atlet tidak tergelincir saat melakukan tolakan. Selain itu, kemiringan maksimal dalam jalur ancang-ancang atau tempat bertumpu tidak boleh lebih dari 1:250 ke arah pusat mistar.

3. Tinggi Tiang Lompat Tinggi

Tiang dibuat harus kokoh dan kuat, bahannya bisa disesuaikan sehingga penyelenggara memilik kebebasan memilih jenis bahan yang sesuai. Biasanya jarak kedua tiang adalah 3,98 – 4,02 meter.

4. Mistar/Bilah Lompatan

Mistar untuk lompat tinggi dibuat dengan panjang sekitar 3.98-4.02 meter dan berat maksimal 2 kg. Garis tengah mistar sendiri berukuran 2.50-3,00 meter dengan penampang mistar berbentuk bulat berukuran 3 cm x 20 meter.

Nah, biasanya mistar tersebut disangga dengan penyangga mistar dikedua sisi ujung mistar. Ukuran penyangga atau penopang tersebut yaitu panjang 6 cm dan 4 cm. Ketinggian penyangga juga disesuaikan dengan standar ketentuan tinggi mistar.

5. Sarana Pendaratan

Tempat pendaratan biasa menggunakan matras berukuran 3 x 5 meter yang terbuat dari bahan busa dengan ketebalan 60 cm. Lebih dari itu, bagian atas matras biasa ditutup kembali menggunakan matras dnegan ketebalan 10-20 cm. Jadi, tempat pendaratan saat ini sudah di desain dengan cukup modern dan relatif lebih aman bagi keselamatan para atlet lompat tinggi.

Baca Juga : Lompat Jauh : Pengertian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *